My Life After SSEAYP?

Jumat, Mei 06, 2022




Haii ...


Udah lama banget rasanya gak nge-blogging menceritakan kesibukan pun aktivitas yang dijalani, terakhir kayaknya pas SSEAYP di tahun 2019 xoxo
Udah kangen belum? Ayoo ngaku hehe

Rasanya dua tahunan tentu bukan waktu yang singkat. Ada banyak hal yang telah dilalui terutama berjuang di masa pandemi Covid-19 yang datang secara tiba-tiba membuat banyak kalangan shock!

Termasuk saya sendiri, sepulang SSEAYP, waktu itu sudah ada rencana untuk segera apply beberapa beasiswa dan merapikan LinkedIn untuk melamar beberapa pekerjaan. Yups, saya resign dari pekerjaan yang memberikan zona nyaman bekerja sambil belajar di sebuah universitas di Bali untuk meraih mimpi mengikuti program pertukaran pemuda “once in a lifetime” a.k.a SSEAYP. Yang pada pengen SSEAYP batch 47, sabar ya, sama-sama berdoa semoga tahun depan ada lagiπŸ˜‰

Lalu apa yang terjadi?


Dengan adanya pandemi, segala proses jadi sedikit terhambat walaupun saat itu, saya mengakui Tuhan maha baik, selalu ada jalan untuk saya melanjutkan perjuangan , dengan tertatih....

Dari beberapa beasiswa yang saya daftar, semuanya menyambut dengan baik aplikasi sampai pada tahap interview. Selama satu tahun penuh saya menjalani hari dengan senantiasa menyiapkan diri untuk tahap-tahap tesnya hingga dinyatakan sebagai main candidate untuk berangkat di pertengahan tahun 2021. Akhirnya saya memilih satu beasiswa dengan potensi support yang memadai serta tujuan kampus impian (nanti saya ceritakan dibawah yaa).

Saat saya disibukkan dengan aplikasi beasiswa ini, saya sedang bekerja “probation phase” di IOM sambil meneruskan aplikasi di salah satu BUMN. Yups, saya apply di 7 NGOs dan 3 BUMN setelah berhasil merapikan LinkedIn beberapa waktu selepas SSEAYP. Sempat kaget karena semua menyambut lamaran dengan baik tapi doi kok belum ada tanda-tanda melamar saya hehe, namun setelah mendapat job offer dari mereka, saya memutuskan untuk fokus pada 1 NGOs dan 1 BUMN plat merah idaman umat. Satu BUMN plat merah yang saya kagumi sejak dulu akhirnya menerima setelah proses yang sangat panjang bahkan harus interview sampai 3 kali xoxo, melelahkan pasti, menguras tenaga tentunya...

Setelah melewatinya dengan ngos-ngosan baik, ternyata mereka memberikan saya tawaran dengan persyaratan kontrak pertama selama 2 tahun, kemungkinan perpanjangan 2 tahun dan menjadi pegawai tetap. Waktu itu saya melamar pada posisi Junior Data Analyst. Bermodal sertifikat Bootcamp, beberapa portofolio dan melewati tes skills dari studi kasus tentang market share dan demand/supply yang menurut saya cukup sederhana. Walaupun memang rasanya selangkah lagi, tapi tentu saja ini bukan menjadi pelabuhan hati hiks karena balik lagi, tujuan utama ingin S2 dulu baru kemudian “serius” bekerja. Apalagi mereka berencana menempatkan saya di Kalimantan, iya calon tunggal IKN kita. Dengan segala kegalauan pertimbangan akhirnya saya menentukan pilihan tetap kepada NGOs yang memberikan fase percobaan selama 6 bulan. Syukurlah, karena saya bisa tetap tidak minta ke orang tua, maluu hehe menghasilkan uang sembari mengikuti tahapan tes beasiswa.

Kenang-kenangan dari IOM setelah tes tulis ada interview online, 
Sayang, BUMN semua daftar melalui Aplikasi mereka jd gak ada jejak detail hiks)
Terima kasih kesempatannya :)



Setelah masalah pekerjaan selesai, saya berusaha untuk move on dari BUMN tersebut dengan rasa patah hati yang cukup menguras jiwa dan raga dan melanjutkan perjuangan setengah jalan menuju studi master. Dari beberapa beasiswa yang telah saya research, akhirnya ada 3 beasiswa yang saya lamar. Satu beasiswa tidak saya lanjutkan karena satu dan lain hal, 2 lagi melaju terus, yaitu AAS dan NZ.

Ikutan AAS hanya sampai tahap interview yang waktu itu saya ikuti di Yogyakarta sambil nengok mas pacar yang ganteng eh tapi akhirnya saya gagal. Walaupun gagal, saya sangat mengapresiasi feedback yang diberikan oleh interviewernya, beliau perwakilan dari pihak Australia dan masih sangat mengena didalam lubuk hati dimana beliau berkata.

“Terima kasih Widia, kamu orang yang cemerlang dengan berbagai prestasi dan kamu bukan orang biasa, tapi sadarilah kamu saat ini, masih sangat belia, explore terus 1-2 tahun lagi dan mendaftarlah kembali, saya yakin saat tiba waktunya nanti, kamu akan menjadi kandidat terbaik dari yang terbaik”

Kata-kata yang “berflower”, tentu saya sudah membuat kesimpulan sendiri bahwa saya bukan kandidat yang mereka cari, ya benar saja saya gagal. Saya tidak memahami betul perkataan beliau waktu itu, yang saya pahami saya gagal dan saya menangis untung mas pacar selalu hadir menghibur saat saya mengalami kegagalan, saya menyadari bahwa memang pandangan saya mengenai S2 masih keliru. Beliau “menyelamatkan” saya dari pelarian mencari jati diri dengan mengambil master dengan tanpa pondasi yang kuat, apa ilmu yang ingin saya “master”kan ketika memutuskan untuk S2 apalagi dengan beasiswa yang mereka sediakan.

Pandangan saya terhadap master degree berubah 180 derajat...mungkin insight mengenai master degree ini akan saya bagikan di tulisan saya nanti...

Baiklah, bagaimana dengan beasiswa NZ?

Kenang-kenangan dari NZ, terima kasih kesempatannya :)


Sinyal positif selalu datang dan saya diterima sebagai salah satu kandidat dan akan disiapkan untuk berangkat antara di pertengahan tahun 2021 atau awal 2022, karena pandemi bahkan isu kuliah saya kemungkinan online namun tetap dari NZ. Tentu saja bahagia apalagi waktu itu saya sudah mempersiapkan diri juga mendaftar S2 di UGM. Berencana untuk mengambil S2 kedua kalinya setelah S2 di NZ. Heran gak tuh? Haha

FYI, studi master yang saya recanakan di NZ hanya kurang lebih 1 tahun dan di UGM ada seorang Profesor kolega dari atasan saya dulu menawarkan beasiswa S2 kepada saya tanpa biaya hidup pada program studi idaman saya dengan catatan saya menjadi asisten beliau untuk project penelitian kolaborasi, waktu itu beliau butuh 5 orang mahasiswa, saya akan dibutuhkan masuk paling lambat periode akademik akhir 2022. Biaya hidup 2 tahun rencana akan  gunakan tabungan saya yang gak seberapa tapi optimis bisa hidup di Jogja hehe

Tentu saja saya lega, tidak ada sama sekali terbesit dalam benak saya untuk “bekerja” dengan serius waktu itu karena yang penting saya menghasilkan uang dengan baik dan halal apalagi waktu itu saya punya bisnis sampingan kecil-kecilan yang menyibukkan setiap malam dengan mini project setiap bulannya sambil menyiapkan rencana penelitian S2 plus menabung yang banyakkk.

Saking sibuknya kok sombong tanpa sadar saya meninggalkan semua sosial media mulai dari uninstall Instagram, Facebook, dan Youtube (masih kadang akses untuk kepentingan bisnis dan infomasi/komunikasi lewat laptop only), saya menyadari itu saat beberapa teman mengakui kalau saya sulit dihubungi dan "tidak kelihatan di sosial media".

Oh jadi gini rasanya hidup penuh di dunia nyata? hehe


Bahkan saya kaget ketika membuka sosial media kembali, teman saya sudah pada punya anak... eh menikah dulu dong..

Saya hanya punya WhatsApp itupun untuk kepentingan komunikasi, semua saya tinggalkan termasuk kegiatan organisasi demi “serius” menata masa depan cielahh maafkan ya teman-teman saya yang merasa kok saya ngilang?

Ini saya kasi jawabannya sekarang... semoga tercerahkan dimaklumi hehe


Di tahun yang bersamaan (2021) saya iseng mendaftar CPNS yang kebetulan dibuka waktu itu.. dan saya meninggalkan semuanya yang baru saja saya ceritakan diatas....fiuhh apa lagi ini dilema

Dopamine detox terhadap sosial media berlanjut dengan segala kompleksitas dalam pikiran saya selama masa pandemi karena harus menentukan pilihan tersulit dalam hidup, apakah balik menerima pekerjaan di BUMN, lanjut menjadi pegawai kontrak di NGOs setelah probation usai, sekolah Master ke NZ “online” atau menjadi PNS? rasanya babak belur 

Syukurnya saya masih hidup walau dengan berbagai kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam melewati masa pandemi dengan terseok-seok serta cara pandang terhadap banyak hal sekarang sudah jauh berbeda...saya bertumbuh!

Terima kasih, kehidupan selama pandemi telah mengajarkan saya untuk lebih “hidup”...dan pastinya akan saya tinggalkan jejaknya disini...

Nanti saya ceritain lagi yaa...Semoga kalian bisa belajar juga dari pengalaman saya, seperti saya belajar dari pengalaman kalian semua. Hidup itu menentukan pilihan, saat banyak orang di luar sana hidup tidak dalam zona nyaman dengan tanpa pilihan sama sekali 😑

Tulisan masih sama, didedikasikan untuk diri-sendiri karena sampai saat ini tanpa lelah terus berjuang dan semoga bermanfaat bagi orang lain!

You Might Also Like

0 komentar

Paling Banyak Dibaca

Subscribe