Kenapa Memutuskan Untuk Menjadi PNS?

Sabtu, Mei 07, 2022




Tulisan ini merupakan kelanjutan dari cerita saya pada tulisan sebelumnya, yang belum mampir sila dibaca dulu disini ya hehe

Gimana... lanjut cerita gak nih?
Rasa-rasanya menjadi Abdi Negara tidak ada dalam list cita-cita saya selepas kuliah. Waktu itu selepas magang dari Jepang saya langsung meniti karir di sebuah NGO Internasional dan berencana menaiki tangga menuju cita-cita bekerja di WHO dalam 5 tahun (setelah S2) incaran saya sejak kuliah bukan Dosen, mungkin banyak yang mengira saya kepingin jadi Pengajar di Kampus tapi sebenarnya belum kepikiran. Siapa sangka? Ternyata kehidupan mengantarkan saya menjadi PNS Pemerintah Provinsi Bali di tahun 2021.

Saya akhirnya membulatkan tekad dengan segala kegalauan pertimbangan menunda rencana S2 dan juga tidak melanjutkan pekerjaan di NGO Internasional kedua saya sebelum memutuskan untuk mendaftar WHO Indonesia, untuk menjadi Abdi Dalem (PNS).

Seiring bertambahnya umur saya menjadi perempuan dewasa cielah…

Saya menyadari dan mengakui bahwa saya perempuan dan saya memang tidak memiliki banyak pilihan. Pahit kan kenyataan? 

Kenapa bisa saya tiba-tiba berpikiran seperti ini?


Semakin kesini, saya menyadari bahwa saya membutuhkan seseorang sebagai partner hidup. Semandiri apapun saya kelihatannya, sebanyak apapun uang yang saya hasilkan, seberapapun suksesnya karir saya, setelah melewati berpuluh-puluh purnama, saya sepakat bahwa saya ingin menikah suatu saat nanti. Kapanpun itu, saya serahkan kepada semesta pemilik kehidupan!

Inilah yang menjadi hulu dari jalur yang kemudian mengantarkan keputusan saya menjadi PNS. Perjuangan saya mengikuti tes CPNS akan saya share di tulisan nanti (tungguin aja yaa wink wink bakal ditambahin real tipsnya).

Work and Travel A lot


Pekerjaan saya sebelumnya mengharuskan saya bepergian ke beberapa wilayah di Indonesia seperti Tanggerang, Jawa Timur, Lombok, Bali, Banjarmasin, hingga Wamena untuk melakukan M&E pada program-program kesehatan disana, kebetulan pekerjaan saya kalau kata temen sih banyak healingnya eh. Dalam 1 bulan, saya dipastikan pergi dengan intensitas sekitar 3-4 kali. Mungkin terasa menyenangkan enak banget kerja rasa jalan-jalan, well, enak kalau kamu masih single. Memasuki tahun kedua walau dengan gaji 8 digit saya merasa bahwa keahlian saya tidur sambil duduk meningkat bahkan berdiri sekalipun. Tidak semua NGO memiliki load kerja seperti tempat saya bekerja, tetapi rata-rata program NGO akan berfokus pada wilayah-wilayah timur Indonesia dan berkantor di kota-kota besar sehingga staf mereka akan melakukan mobilisasi yang cukup tinggi setiap tahunnya apalagi menjelang akhir tahun hemm. Bagi fresh graduated mungkin bisa dicoba apalagi jika memang kamu memiliki passion untuk benar-benar langsung berdampak pada masyarakat. Pengalaman buat saya sangat berharga beberapa tahun belakangan ditempa dan menjadi sedikit lebih percaya diri ketika memasuki pintu gerbang birokrasi. 

Membuat Orang Tua Bangga


Saya berasal dari sebuah desa kecil di Bali. Walaupun lahir dan besar di Bali, saya sangat jarang yang namanya berplesiran mengunjungi tempat-tempat fancy yang banyak bulenya. Bahkan mungkin wisatawan lebih “mengenal” tempat wisata di Bali. Karena anak kampung, menjadi PNS mendapat tempat yang begitu istimewa di hati para orang tua, bahkan katanya saya calon menantu idaman. Sehingga, saya melihat dan mendengar kedua orang tua saya bangga menceritakan tentang pencapaian saya kepada para tetangga, dulu kerja sampai Jepang terkesan biasa aja tuh. Saya memahami betul perasaan mereka, Bapak yang saya kagumi hanya lulusan SMA dan Ibu yang saya kasihi bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah tapi mereka berdua membanting tulang untuk bisa “mengantarkan” anaknya Sarjana bahkan menjadi PNS hanya dengan satu kali tes. Saya PNS pertama di keluarga yang lulus murni, transparan dengan CAT bahkan score saya bisa dilihat real time di YouTube. Ditambah gaji saya yang lumayan untuk kalangan kami di desa membuat saya kadang mendapat perlakuan yang berbeda dari sebelumnya. Sad but true. Namun, dibalik itu semua saya ikut bahagia, karena orang tua saya bisa “pensiun” dengan tenang karena merasa anaknya sudah “aman” mendapat pekerjaan tetap.

Memiliki Banyak Waktu dan Stabilitas


Saya tidak akan menutup mata bahwa terdapat >4 juta pelamar CPNS di tahun 2021 dan yang diterima hanya ratusan ribu saja. Kestabilan dan kejelasan jenjang karir pekerjaan ini membuat banyak orang ingin menjadi PNS ditambah dengan semakin baiknya sistem rekruitmen ASN, membuat banyak kalangan optimis bisa menjadi bagian dari warga berokrasi. Walaupun tidak dapat dipungkiri, masih ada saja stigma dan oknum tapi saya berani dan yakin lingkungan PNS semakin membaik, semoga berbenah seterusnya, AMIN. 
Sejak bekerja menjadi Abdi Muda, saya merasa hidup kembali. Berangkat melihat matahari dan pulang kantor pun masih terik. Kemudian, saya berkesempatan menulis buku bersama dan diterbitkan awal tahun 2022, mulai aktif Yoga dan olahraga in general, membaca buku sesekali mampir untuk membeli beberapa kesukaan saya serta tentu saja menulis buku/blogging hingga menjalankan bisnis kecil-kecilan pun masih sempat. Bersiap untuk bisnis yang lebih besar yuk hehe canda. Rasanya hidup terasa lebih ringan entah kenapa rasanya saya menemukan kembali jiwa yang hilang entah kapan dan merasakan work life balance yang selama ini digaungkan banyak kalangan, apakah saya sudah merasa menyesuaikan cocok dengan pekerjaan sekarang?

Dekat Dengan Orang Tua dan Merasa Cukup


Jarak rumah dengan kantor hanya sekitar 30 menit, sama seperti ketika saya kuliah dulu di Denpasar. Bedanya, jalanan menuju kantor lebih rindang dan bebas dari kemacetan. Saya berangkat ke kantor 06:30 AM-15:30 PM Senin-Jumat, hampir selalu merasa sejuk kedinginan dan ringan sambil bernyanyi mendengarkan musik kesukaan tanpa takut terlambat akibat macet. Dengan gaji saya sekarang pun walaupun baru 80% karena masih berstatus CPNS, saya merasa cukup apalagi Ibu selalu memasak pagi-pagi buta agar saya bisa membawa bekal makan siang. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang tua saya yang tanpa sadar selalu menua. Kesibukan saya dulu yang lebih banyak keluar-keluar, membuat saya merasa bahagia bisa menghabiskan waktu lebih banyak di rumah bersama mereka walaupun sama-sama masih sibuk bekerja. I love you mom!
Sabtu dan Minggu cukup untuk saya keluar Yoga bersama dan me time lanjalan sendirian :)
Gaji PNS memang kecil dibandingkan dengan teman saya bahkan ada yang gajinya 30-40 jt/bulan. Yups, jangan kaget ya, yang kaget mainnya kurang jauh, itu biasa saja kalau di Jakarta mah katanya hehe. Walaupun teman sejawat mengatakan penghasilan saya jauh lebih besar karena saya bekerja di Rumah Sakit level Provinsi sehingga saya akan mendapatkan Gaji Pokok, beberapa tunjangan, TPP Provinsi, dan juga Jaspel. Yah tetap saja saya akui jika dibandingkan penghasilan saya dulu, bahkan tidak ada setengahnya hehe tapi untuk ukuran tinggal di desa, tetangga menganggap saya calon orang kaya. Padahal tetap saja gaya hidup mah tetap biasa saja huft. Tetap saya bersyukur dengan pilihan saya, mengapa? Mari saya ceritakan lebih lanjut.

Menjadi Istri dan Ibu


Tidak salah baca kok, walaupun dulu saya skeptis ingin fokus berkarir dan kemungkinan tidak menikah karena satu dan lain hal, semenjak saya bertemu dengan partner hidup yang sekarang, saya ingin menikah dan memiliki anak. Terima kasih mas pacar sudah menjadi partner diskusi yang apik!
Tidak sedikit memang wanita karir berkeluarga dan memiliki anak bisa menduduki top posisi di BUMN dan NGO, tapi apakah kalian benar paham background mereka seperti apa? saya sedikit memahami, realistis terhadap kehidupan dan saya mengerti jalan yang saya lalui sekarang sudah sesuai dengan apa yang ingin terus saya tapaki kedepannya. Saya tidak menyalahkan keadaan, saya tidak membandingkan diri, saya ikhlas dan cukup. Jika kalian sudah ada di fase ini, percayalah kalian akan setuju (:

Jika flasback sedikit, kenapa akhirnya saya memilih berkarir sebagai warga birokrasi karena saya ingin sekali menjadi istri yang bisa mengurus rumah tangga dengan baik dan paling penting hadir penuh untuk anak saya nanti terutama di 1000 pertama masa pertumbuhannya, memberikan akses bermain di pedesaan dengan nenek/kakeknya serta dengan akses nutrisi dan pendidikan yang terbaik, tanpa harus memusingkan urusan finansial. Saya tidak munafik, walaupun tidak banyak, anak dan suami saya nanti mendapat tanggungan yang cukup, walaupun tidak sebanyak tanggungan di BUMN, saya memiliki pekerjaan tetap dengan keleluasaan waktu untuk hadir bagi rumah tangga saya nanti, ditambah dengan bisnis sampingan. 

Betul sekali! Saya sangat visioner hingga dapat menjangkau pemikiran yang sebenarnya cukup jauh kedepan. Saya tidak ingin ketika masa emasnya, anak saya nanti memiliki ibu yang sangat sibuk dengan mobilitas pekerjaan yang tinggi disertai dengan jam kerja yang cukup panjang beserta beban kerja yang membuat rumah tangga jadi ginjang-ganjing perkara saya yang stress membawa kerjaan ke rumah. Saya juga ingin menjadi seorang ibu dimana masakan saya akan dirindukan suami dan anak-anak saya nantinya. 

Mas pacar dan saya sepakat bahwa kami keduanya tidak bisa sama-sama berkarir di BUMN jika nanti memutuskan memiliki anak. Jika saya resign ketika hamil dan hanya Mas pacar yang bekerja, saya rasa sulit dengan karakter saya yang memang tidak bisa diam dan tidak bisa gak pegang uang sendiri untuk hidup damai. Apalagi ditambah dengan adanya pandemi, saya jadi belajar bahwa bekerja di perusahaan walau sekelas BUMN sangat riskan dengan PHK yang datangnya tiba-tiba. Jika sudah begitu, semakin menuanya umur dan skills sudah dipastikan melesat terjun bebas dengan persaingan dunia kerja yang semakin mencengangkan, tidak semua tapi rata-rata begitu.

Kenapa gak mencoba bekerja di Start-up? Walaupun saya tidak pernah merasakan menjadi pekerja startup karena background ilmu yang tidak relevan ditambah skills saya tidak match dengan kebanyakan kebutuhan pasar, sejak 2020, saya telah merintis bisnis kecil-kecilan. Saya mendapatkan sertifikat sebagai data analyst dari program Digitalet Kominfo, saya registrasikan dengan nama @witahub dan sampai sekarang astungkara masih berjalan dengan berbagai mini project dan culturenya saya bisa bilang mirip-mirip dengan start-up dimana saya bikin catatan keuangan sendiri, membuat target, marketing, mengelola tim sampai admin. Kadang saya masih harus menganalisa data sampai pukul 3 dini hari (duh jadi kangen momen itu). Tapi kembali lagi saya merasa, bukan ini tujuan hidup saya dan pasang surutnya pekerjaan ini membuat saya merasa hidup dalam ketidakstabilan mental dan financial walaupun saya pernah menghasilkan 10 kali lipat dari gaji saya sekarang hanya dalam waktu sebulan.

Saya Perempuan


Iya, yang terakhir yang paling penting seperti diawal saya mention bahwa saya tidak bisa sebebas laki-laki bisa mengambil jenis pekerjaan tertentu. Saya memiliki kodrat untuk hamil, mengASIhi, dan melayani keluarga saya. Sehingga saya tidak ingin mengulang circle yang sama dimana orang tua tidak bisa hadir menjadi pendidik dan sekaligus teman bagi anaknya. Saya tidak mengelak bahwa perempuan harus hadir menjadi pendamping bagi laki-lakinya dan saya selalu memiliki pandangan bahwa sebagai partner saya harus dapat hadir untuk mereka begitu juga calon partner saya yang berpikiran demikian. Kami ingin hidup biasa-biasa saja dan berkecukupan jauh dari hiruk pikuk kota besar.

19 April 2022; Pembagian SK CPNS di Gedung Ksirarnawa, Art Center Bali



Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi saya saja tanpa ada maksud menglorifikasi kehidupan PNS lebih baik dari pekerjaan lainnya, ini adalah pengalaman berharga yang ingin saya goreskan jejaknya sebagai pengingat saya akan arti sebuah perjuangan. 

Apapun pekerjaanmu, syukurilah karena mencari pekerjaan lebih sangat melelahkan dan menguras tenaga. Saya hanya ingin bercerita dan berbagi pertimbangan-pertimbangan mengapa pilihan ini meyakinkan saya untuk kembali bersemangat menaiki tangga karir dengan meninggalkan pilihan-pilihan lain yang membuat banyak teman saya geleng-geleng kepala pusing ciunah.

Tentu, setiap orang memiliki pilihan dan pertimbangan dalam memilih pekerjaanya masing-masing. Banyak faktor yang menentukan pastinya. 
Saya cukup beruntung ketika saya masih bisa memilih di umur sekarang ini, memiliki cukup banyak pengalaman belajar di lebih dari 5 negara sampai akhirnya memutuskan menjadi PNS karyawan tanpa ruang gerak bebas, umbi-umbian. Buat yang masih fresh graduated mungkin bisa menjadi pertimbangan kalian terutama untuk para perempuan, choose wisely, girl. 

Idealisme kalian akan sirna suatu saat nanti, yang membedakan adalah kapan? Ingin berkontribusi mengubah dunia? Bangun dan sadari dirimu siapa? Siapa keluargamu? Lihatlah sekeliling dan peka pada diri-sendiri ya!

Hari ini tidak belajar bekerja keras, besok bekerja keras mencari pekerjaan


01 April 2022; Pertama kali datang disambut di Ruang pertemuan Lat.2 Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali oleh Pak Sangtu dan Bu Eka Krisna





Bersama 20 orang CPNS yang ditempatkan pada RSJ Provinsi Bali, semoga persahabatan kita kekal ya!


You Might Also Like

0 komentar

Paling Banyak Dibaca

Subscribe