Semester Tiga Mengajarkan Sekali Lagi untuk Tak Pernah Ragu Lagi Pada Diri

Selasa, Juli 21, 2026



Nggak kerasa semester tiga udah berakhir aja nih. Kalau ditanya gimana rasanya, jawabannya: capek, tegang dan sempat ragu sama diri-sendiri, tapi banyak "aha moment". Semester ini aku ambil empat mata kuliah; Economic Evaluation in Practice, Health Policy, Leadership and Policy, dan Capstone Research, plus beberapa kegiatan di luar kuliah yang bikin semester ini terasa lebih hidup. Walaupun aku gak berani daftar student ambassador waktu itu karena mata kuliah yang aku ambil cukup berat, namun ternyata aku salah. Mata kuliah yang aku kira menantang ternyata mendapat nilai paling tinggi. Pengalaman ini Kembali menampar aku untuk selalu percaya sama diri-sendiri dan tidak takut untuk menjalani tantangan kedepannya. Aku mau tulis di sini biar suatu hari nanti kalau baca lagi, aku jd inget kenapa semester ini memberikan pelajaran yang berharga buatku.

Economic Evaluation in Practice menjadi Mata Kuliah Impianku, Belajar Menghitung Nilai Kesehatan

Ini mata kuliah yang bikin aku mikir tentang"berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah hidup yang lebih baik" cielah. Salah satu tugas yang paling nempel di kepala adalah waktu aku harus milih instrumen HRQoL yang tepat, EQ-5D-Y-3L atau EQ-5D-Y-5L, buat studi populasi anak dengan cerebral palsy usia 12-30 tahun dalam konteks UK/NICE. Kedengarannya teknis banget, dan memang iya, tapi di balik angka-angka itu ada pertanyaan yang jauh lebih manusiawi: gimana caranya kita mengukur kualitas hidup orang dengan cara yang lebih realistis bahkan adil?

Selain itu aku juga belajar soal Markov modelling dan kenapa kadang model ini lebih unggul dibanding evaluasi berbasis trial semata. Awalnya bingung banget sama transition probabilities, tapi pelan-pelan mulai kebayang logikanya.

Jadi memang berkesan selama satu semester belajar Economic evaluation bukan cuma soal efisiensi biaya, tapi soal bagaimana angka bisa jadi alat untuk mengukur keadilan dalam mengalokasikan anggaran asal kita milih metode yang tepat buat konteks yang tepat. Kelasnya intensif jadi gak burn out juga syukurnya bahkan memang lebih menikmati kelas jadinya. 



Capek banget memang mata kuliah satu ini haha, Chika, Jo, In

V, Icut, In, Sarah, Jo

Health Policy: Lebih Sadar akan Kebijakan Kesehatan dan Politik

Mata kuliah ini paling banyak menuntut aku menulis dengan "suara" yang berbeda bukan buat dosen, tapi seolah-olah buat pengambil kebijakan beneran, jadi posisinya sebagai pembuat kebijakan. Salah satu tugas yang paling berkesan adalah policy brief soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang aku tujukan langsung ke Menteri BGN, membahas stunting, ketimpangan akses di daerah 3T, kegagalan keamanan pangan, sampai celah monitoring program.

Ada juga policy brief lain yang aku tulis untuk Kepala Perwakilan Diplomatik Australia, mendorong prioritas kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas di kantor-kantor DFAT di berbagai negara merujuk ke International Disability Equity and Rights Strategy 2024, dan membandingkannya dengan bagaimana isu gender sudah punya arsitektur institusional yang lebih matang.

Berlatih menulis kebijakan itu latihan empati sekaligus presisi, dan memang ternyata harus cukup tegas untuk didengar, dan juga cukup berbasis bukti supaya nggak dianggap sekadar opini. Namun kalau boleh jujur aku gak terlalu suka format tutorialnya terlalu ramai, namun kelasnya seru karena relate dengan kebutuhanku. 






Leadership and Policy: Belajar Jadi Bagian dari Tim, Bukan Cuma Individu

Ini mata kuliah yang paling banyak ngajarin aku soal kerja tim yang sesungguhnya. Aku tergabung di Group 2 ada Yan dari Myanmar, Misty dari Australia, Kevin dari China. Aku bisa bilang kalau grup ini amazing dan kerjasamanya keren banget. Kita belajar bikin sistem mapping pakai Kumu dan membahas mengenai Reusable Cup di Kampus Unimelb. Seru dan sangat berkesan rasanya. Tutorialnya juga asik, walaupun ada sitting exam, oral presentasi, dan juga kerja kelompok, semua berjalan lancar dan nilaiku pun sangat memuaskan.  

Leadership nggak selalu soal jadi yang paling vocal, kadang soal memastikan bagian kecil yang kita pegang, fokus denga napa yang menjadi tanggung jawab kita dan kerjakan dengan semaksimal mungkin, itu membantu kerja tim menjadi lebih efisien. 





Capstone Research: Ini bener-bener Long Gamenya 

Kalau tiga mata kuliah di atas terasa seperti sprint, capstone ini adalah marathon. Topik yang aku ambil soal biaya dan cost-effectiveness intervensi kesehatan untuk pencapaian SDG, dari sudut pandang pemerintah/funder, dengan fokus negara berpenghasilan rendah-menengah (LMIC).

Prosesnya panjang: dari setup Covidence buat screening, merumuskan kata kunci dan alasan eksklusi berdasarkan framework PCC, sampai menjelajahi grey literature dari WHO IRIS, World Bank OKR, UNDP HDR Portal, 3ie, dan iDSI. Aku juga bikin template ekstraksi data yang selaras PRISMA-ScR di Word, dan menulis paragraf tambahan untuk laporan progres soal alasan pakai perspektif funder dan pertimbangan equity/distribusi.

Sepanjang semester tig aini benar-benar belajar untuk berproses dan sabar melalui setiap tahapannya. Memang ini Marathon beneran. Jadi mesti sabar dan harus menjaga pace diri-sendiri tanpa membandingkan diri dengan pace orang lain. Nice life exercise!

Riset itu bukan soal cepat selesai, tapi soal membangun fondasi yang kuat dan dapat memahami setiap prosesnya dengan teliti serta bekerja Bersama 2 supervisor dengan feedback yang beragam setiap minggunya. Cukup intens karena aku bertemu dengan beliau seminggu sekali selama 30 menit diawal-awal dan sekarang ketemu 1 jam setiap sesi. Selalu nervous dan menurutku ini sangat alami :)

 


Di Luar Kelas mencoba Menyiapkan Abstract untuk CAPHIA Forum

Selain empat mata kuliah itu, semester ini aku juga sibuk menyiapkan abstract untuk CAPHIA forum yang akan diadakan November 2026 di Curtin University, Perth. Abstract ini menceritakan program One Health KKN tahun 2016 di Desa Keramas, Bali, yang memakai pertunjukan tradisional Bondres untuk menyisipkan pesan pencegahan DHF dan rabies ke masyarakat. Abstract ini aku arahkan ke stream Equity/Decolonising. Perth akan menjadi destinasi state terakhir aku di tahun 2026 ini sebelum back for good, semoga goal ya, amin 

Menulis ulang pengalaman lapangan jadi bahasa akademik itu ternyata tantangan tersendiri ya ternyata hehe gimana caranya cerita yang penuh warna lokal tetap terasa hidup, tapi juga memenuhi standar akademik yang diminta forum pastinya, ya bagaimanapun hasilnya nanti, yang paling penting Adalah terus berproses ya wid, senang melalui semua prosesnya dengan baik selama menempuh studi ini…

Pengalaman lapangan yang terasa sederhana ternyata bisa jadi kontribusi akademik yang berarti, asal kita berani menceritakannya dengan kerangka yang tepat, aku rasa ini akan menjadi Pelajaran berharga kedepannya. 


Semester 3 ini juga menjadi semester penuh Perpisahan, Pendakian, dan Rasa Syukur Pastinya…

Kalau empat mata kuliah tadi ngajarin aku soal angka, kebijakan, dan riset, semester ini juga ngajarin aku hal-hal yang nggak ada di silabus mana pun.

Salah satu yang paling berat: aku harus melepas Azlifa (dari Maldives), Pagna (dari Kamboja), dan Dia (dari Laos). Mereka bertiga ikut program 1,5 tahun yang akhirnya selesai semester ini, mereka Adalah best bestie aku selama MPH ini, jadi mereka harus pulang ke negara masing-masing. Rasanya campur aduk, senang karena mereka akhirnya menyelesaikan perjalanan panjangnya, tapi juga sedih karena circle kecil yang udah kebentuk sepanjang semester-semester sebelumnya, sekarang harus terpisah jarak dan waktu. Ya begitulah hidup ya, people come and go, harus tetap setia dengan diri-sendiri... Life must go on and on gaskeunn….!!!

Di luar itu, semester ini juga penuh momen-momen kecil yang ternyata memberi warna dalam hidup. Aku ikut mendaki ke Werribee Park dan Sugarloaf, ikut volunteer ke Ararat, hadir di end semester party, merayakan Kuningan di KJRI Melbourne, ikutan welcoming event buat para scholar bareng teman-teman AAS, sampai kumpul-kumpul santai bareng teman-teman MPH Indo. Satu-satu kelihatannya kegiatan biasa, tapi kalau ditumpuk jadi satu semester, semuanya bikin hidup di Melbourne terasa penuh warna dan rasa Syukur, bertemu dengan banyak orang baik. 

Bos aku Simon juga selalu memberi shift dan kadang aku minta break untuk tetap bisa jauh dari rasa burn out. Semuanya begitu menyenangkan, astungkara Tuhan Maha Baik, selalu memberikan kesempatan buat aku berproses dan menikmati hasil dari kerja keras yang aku usahakan. 

Dan di titik ini aku sadar satu hal: aku enjoy banget kuliah di Unimelb, bukan cuma karena akademiknya, tapi karena kesempatan-kesempatan lain yang mungkin nggak akan aku dapat kalau aku tetap di Indonesia. Persahabatan lintas negara, nilai-nilai hidup baru, perubahan pola pikir, belajar mencintai dan menerima diri dengan lebih baik, sampai pola hidup dan pola pikir yang perlahan jadi lebih growth. Rasanya so blessed banget bisa ada di titik ini.

Kalau dirangkum, semester 3 ini adalah semester "belajar bicara dengan angka, kebijakan, tim, dan waktu". Empat mata kuliah ini masing-masing mengajarkan bahasa yang berbeda: bahasa ekonomi, bahasa kebijakan, bahasa kolaborasi, dan bahasa riset jangka panjang. Dan di luar itu semua, CAPHIA forum ngingetin aku kalau semua ilmu ini pada akhirnya harus kembali ke masyarakat yang pernah jadi tempat aku belajar pertama kali.

Semoga semester depan tetap sebanyak ini pelajarannya, tapi mungkin dengan tidur yang lebih cukup ya wid, cayooooo enjoy the rest!




Syami, Syauqie, Bee, Idi, James, Widia, Almira, Dia, Vriska, Jyap, 

Semeton Bali, Kuningan di KJRI Melbourne




Werribeeeee 



Riska, April, Widia, Ayas




Lingga, Lintang, Widya, Stella


Step Up Running Club

Sugarloaf Hiking Mountain

Zef, Shafira, Nesya, and C

Nesya and Shafira

MPGHS Club 

Tari, Lingga, Widya

Citra, Azlifa, Dia, Pagna

Anzac Day!









Semeton Bali 







MPH Indonesia 2026







You Might Also Like

0 Comments

Paling Banyak Dibaca

Subscribe