Di Balik Tembok Batu Ararat: Cerita dari Bekas Penjara, Rumah Sakit Jiwa, dan Panti Lansia

Senin, Juli 20, 2026



Aku sepertinya sepakat bahwa ada tempat-tempat yang begitu kamu injakkan kaki di sana, kamu langsung merasa sejarahnya nempel di pikiran. J Ward di Ararat, Victoria, adalah salah satunya. Dulu penjara, lalu jadi rumah sakit jiwa untuk kriminal yang dianggap “gila”, sekarang jadi museum yang dijaga oleh segelintir volunteer yang setia menjaga ceritanya tetap hidup. Aku salah satu dari mereka dan ini cerita tentang kenapa pengalaman itu mengubah cara aku memandang kesehatan mental, lansia, dan sistem yang menaunginya.



Dari Penjara Emas Ke Rumah Sakit Jiwa Paling Ditakuti di Victoria

J Ward awalnya dibangun sebagai Ararat County Gaol, penjara yang mulai beroperasi pada 10 Oktober 1861, di masa kejayaan emas Victoria sedang di puncaknya. Waktu cadangan emas di sekitar Ararat mulai habis pada pertengahan 1880-an, penjara ini kehilangan fungsi awalnya.

Pada 1887, bangunan yang sama dialihfungsikan oleh Lunacy Department menjadi J Ward, bagian dari Ararat Lunatic Asylum (belakangan dikenal sebagai Aradale Mental Hospital) khusus untuk menampung “criminally insane”: orang-orang yang seharusnya berada di penjara, reformatory, atau tempat penahanan lain, tapi dianggap mengidap gangguan jiwa. Selama lebih dari satu abad, J Ward menjadi fasilitas keamanan maksimum untuk kondisi tersebut, yang secara data tertulis dapat menampung sekitar 52 orang.

Aradale sendiri, dibangun mulai 1864 sebagai satu dari tiga rumah sakit jiwa besar di Victoria (bersama Kew dan Beechworth), sempat menampung lebih dari 900 tempat tidur dan punya “kota di dalam kota” bahkan memiliki kebun, kebun anggur, peternakan babi, sampai kuburan sendiri. J Ward baru ditutup sebagai fasilitas pada Januari 1991, dan Aradale secara keseluruhan menyusul pada 1993-1998. Salah satu penghuni paling lama, Bill Wallace, meninggal di Aradale pada 1989 di usia 107 tahun, sebagian besar hidupnya dihabiskan di balik tembok bluestone itu.

Sejak 1993, J Ward dibuka kembali untuk publik sebagai museum, dikelola sepenuhnya oleh organisasi nirlaba bernama Friends of J Ward. Di sinilah aku mendaftar jadi volunteer.




Jadi Volunteer di J Ward: Bukan Merawat Pasien, Tapi Menjaga Cerita Mereka Tetap Didengar

Penting aku luruskan dari awal: karena J Ward sudah tidak beroperasi sebagai rumah sakit sejak awal 1990-an, peran volunteer di sana bukan interaksi klinis dengan pasien, melainkan menjadi pemandu tur heritage, merawat arsip, dan menyampaikan sejarah tempat ini ke pengunjung. Aku pertama kali tahu soal program volunteer ini dari situs Friends of J Ward, waktu lagi cari-cari kegiatan komunitas di sekitar Ararat. Setelah isi formulir pendaftaran dan lolos police check, aku diundang ikut sesi orientasi singkat sebelum benar-benar dilepas membawa rombongan sendiri. Orientasinya enggak seberat yang aku bayangkan, lebih ke pengenalan garis besar sejarah tempat ini, alur tur standar, dan aturan keselamatan di dalam kompleks. Setelahnya, aku beberapa kali "membayangi" pemandu senior dulu, memperhatikan bagaimana mereka membawa cerita, menjawab pertanyaan pengunjung, sampai mengatur ritme tur supaya enggak terlalu berat buat rombongan yang datang.

Dari semua area di kompleks J Ward, aku paling sering habiskan waktu bercerita di sayap sel (cell block) dan halaman (exercise yard). Sayap sel selalu jadi titik paling hening dalam setiap tur, begitu masuk, suara rombongan otomatis mengecil sendiri, dan di situ aku biasanya menjelaskan bagaimana ruang sekecil itu dulu jadi "rumah" untuk orang-orang yang sebenarnya butuh perawatan, bukan hukuman. Sementara di halaman, aku sering mengaitkan cerita dengan konsep ha-ha wall yang dipakai di banyak asylum pada era itu, tembok rendah dari luar, tapi dalamnya ada parit dalam supaya enggak kelihatan seperti penjara.

“Keberlanjutannya sebagai bagian dari rumah sakit jiwa, di abad ke-20 ini, lebih barbar daripada kebarbaran itu sendiri.” (terjemahan dari quote)- Inspector General of the Insane, 1908

Kutipan itu terpampang di salah satu dinding J Ward, dan setiap kali membacanya ulang ke pengunjung, aku selalu merasa ngilu sendiri. Membawa rombongan turis melewati sel-sel bluestone yang dingin, sambil menjelaskan bagaimana orang-orang dengan gangguan jiwa dulu diperlakukan setara, bahkan lebih buruk, dari narapidana kriminal, bukan sekadar tugas menghafal fakta. Ruangannya benar-benar dingin, gak terbanyangkan dinginnya saat musim winter dan pada zaman itu belum ada jaket-jaket tebal seperti fasilitas sekarang. Ngilu banget kalau membayangkan harus berada dalam rumah sakit ini selama bertahun-tahun lamanya. 

Tentu yang aku pelajari dari pengalaman ini: sejarah J Ward adalah pengingat keras tentang apa yang terjadi ketika kesehatan mental diperlakukan sebagai masalah keamanan, bukan masalah perawatan. Dan itu bukan cuma sejarah Australia, itu cermin yang relevan untuk Indonesia, di mana stigma terhadap gangguan jiwa masih membuat banyak keluarga memilih memasung anggota keluarganya dibanding mencari bantuan medis. Kalau ada satu hal yang ingin aku bawa pulang dari J Ward, itu adalah: dokumentasi dan cerita yang jujur tentang masa lalu adalah salah satu alat paling ampuh untuk mencegah sejarah kelam itu terulang.

Dari Museum ke Panti Lansia: Volunteer di Uniting AgeWell, Ararat

Enggak lama setelah 3 hari jadi volunteer di J Ward, aku kemudian mendapat kesempatan untuk menjadi volunteer di program lansia yang dijalankan Uniting AgeWell di wilayah Ararat, salah satu penyedia aged care yang memang membuka program volunteer untuk masyarakat umum, tanpa syarat kualifikasi khusus, hanya perlu menjalani police check dan pelatihan dasar sebelum mulai.

Aku berkunjung ke panti seminggu sekali selama sekitar 2 bulan penuh, jadwalnya selalu di siang-ke sore hari tapi aku biasanya berangkat dari pagi, pas jam-jam residen biasanya lagi santai di ruang bersama. Kegiatannya santai aja kebanyakan mengobrol sambil menemani mereka minum teh, kadang diselingi jalan pelan-pelan keliling taman kalau cuacanya bagus. Enggak ada agenda khusus tiap kunjungan, dan justru itu yang bikin momennya terasa jujur, enggak ada yang dikejar, cuma hadir dan dengar. Momen yang kadang bikin kangen mamak di rumah, bahkan beberapa kali sempat meneteskan air mata karena banyak pesan yang aku dapat dari para residen. 

Dari semua residen yang aku temui, ada satu sosok yang paling menempel di ingatan, aku panggil saja Nenek M (biar privasinya tetap terjaga). Setiap minggu dia selalu cerita ulang kisah yang sama tentang masa mudanya, dan awalnya aku pikir itu karena beliau lupa sudah pernah cerita. Tapi lama-lama aku sadar, dia enggak butuh cerita baru didengar, dia cuma butuh didengar, titik. Minggu terakhir aku ke sana, dia sempat bilang kunjunganku adalah bagian favorit minggunya. Kalimat sesederhana itu yang bikin aku ngerti kenapa kesepian di usia tua sering luput dari radar kebijakan Kesehatan, karena enggak ada angka yang bisa menangkap rasa "ditunggu" dan ada yang “menunggu” serta “mendengar” celotehan kita dengan antusias setiap harinya…

Yang membuat pengalaman ini terasa berbeda dari volunteer di J Ward adalah momen personalnya. Kalau di J Ward aku bicara tentang orang-orang yang sudah lama tiada, di panti lansia aku duduk berhadapan langsung dengan orang yang kesepiannya bisa aku rasakan seketika itu juga. Banyak dari mereka enggak butuh perawatan medis rumit, mereka cuma butuh seseorang yang mau duduk, dengar cerita yang sama untuk kesekian kali, dan enggak buru-buru pergi. Hadir benar…. Hadir benar-benar hadir saling mendengarkan walaupun apa yang sedang kita ceritakan mungkin memori memori kecil masa lalu yang Kembali menjadi semangat untuk tetap menjalani kehidupan. 

Jadi kepikiran hal-hal yang Bisa Diterapkan di Indonesia

Dua pengalaman ini, meski jauh dari rumah, terus terngiang setiap kali aku mikirin sistem kesehatan mental dan perawatan lansia di Indonesia:

Dokumentasi sejarah kelam sebagai alat edukasi yang bisa dibuka untuk umum, museum seperti J Ward bisa jadi model bagaimana Indonesia mendokumentasikan sejarah pemasungan dan perlakuan terhadap ODGJ, bukan untuk mempermalukan, tapi untuk mendidik generasi berikutnya bahwa perlakuan pemasungan ini sangat tidak manusiawi. 

Volunteer sebagai jalur masuk yang mudah, program seperti Uniting AgeWell enggak mensyaratkan latar belakang khusus untuk mulai terlibat, tidak harus memiliki background kesehatan. Model volunteer ringan seperti ini masih jarang terstruktur rapi di panti-panti lansia Indonesia, padahal potensi relawannya besar, terutama dari mahasiswa kesehatan Masyarakat yang ingin mengerti sistem dan manajemen/regulasi fasilitas kesehatan.

Kesepian lansia adalah isu kesehatan masyarakat, bukan cuma isu keluarga sesuatu yang jarang masuk dalam kebijakan kesehatan masyarakat kita, padahal dampaknya nyata ke kesehatan fisik dan mental lansia. Jadi kepikiran mungkin aja di masa depan akan banyak generasi yang memilih untuk tidak menikah dan kesepian akan menjadi isu yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan sekarang. Tren generasi muda yang menunda atau memilih tidak menikah, ditambah struktur keluarga yang makin kecil dan mobilitas kerja yang makin tinggi, artinya makin banyak orang yang bakal memasuki usia tua tanpa pasangan atau anak yang otomatis jadi support system-nya. Kalau sistem kesehatan masyarakat kita masih mengasumsikan keluarga besar sebagai "jaring pengaman default" untuk lansia, kita sedang menyiapkan krisis kesepian dalam skala yang jauh lebih luas untuk dua-tiga dekade ke depan dan Jepang serta Korea Selatan sudah lebih dulu merasakan versi ekstremnya, dengan istilah seperti kodokushi (meninggal sendirian tanpa diketahui) yang jadi fenomena nyata di sana.

Solusinya enggak bisa cuma dibebankan ke keluarga, karena justru struktur keluarga itulah yang sedang berubah. Beberapa hal yang menurutku realistis bisa dimulai seperti misalnya,

Skema volunteer kunjungan lansia yang terstruktur di tingkat komunitas seperti yang aku alami di Uniting AgeWell, bisa direplikasi lewat Posyandu Lansia yang dikembangkan, jadi enggak bergantung sepenuhnya pada anggota keluarga.

"Social prescribing" dalam layanan primer, dokter atau petugas Puskesmas enggak cuma meresepkan obat, tapi juga merujuk pasien lansia yang kesepian ke program sosial di komunitasnya, sesuatu yang sudah mulai diadopsi di sistem kesehatan Inggris. Jadi para lansia bisa bercengkrama dan beraktivitas aktif.

Model hunian yang mendukung interaksi lintas generasi, co-housing atau kompleks yang sengaja mencampur unit untuk lansia dan keluarga muda, supaya interaksi sosial enggak butuh usaha ekstra.

Data dan pemetaan risiko isolasi sosial sebagai bagian dari indikator kesehatan masyarakat, bukan cuma indikator ekonomi atau penyakit fisik, supaya kebijakan bisa lebih preventif, bukan reaktif setelah masalahnya sudah parah. Masih penasaran apa yang akan terjadi di masa depan, namun sepertinya sekarang sudah mulai semakin terasa dampaknya…

Intinya, kesepian di usia tua bukan takdir yang harus diterima generasi mendatang begitu saja itu bisa dan seharusnya jadi bagian dari desain kebijakan kesehatan masyarakat, bukan sekadar residu dari pilihan hidup personal, aku rasa pemerintah juga harus dapat memikirkan ini kedepannya. Melihat fenomena “in this economy” tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk tidak menikah pun childfree, setidaknya ini yang aku ketahui hehe…



Kalau ditanya apa yang paling menempel dari dua pengalaman ini, jawabannya bukan soal tembok bluestone atau sesi mengobrol sore hari di panti, tapi soal sistem di baliknya. Menyusuri J Ward, aku enggak cuma melihat gedung tua, aku melihat apa yang terjadi ketika sebuah negara belum punya kebijakan kesehatan jiwa yang manusiawi: orang-orang dikunci, bukan dirawat, karena memang belum ada pilihan lain yang dibangun untuk mereka. Dan duduk bersama lansia di Uniting AgeWell, aku melihat versi lain dari masalah yang sama, ketika sebuah masyarakat sudah cukup mapan untuk membangun panti yang layak, tapi masih kesulitan menjawab kebutuhan yang jauh lebih sederhana: ditemani, didengar, dan enggak dianggap beban.

Buat aku yang sedang menekuni kesehatan masyarakat, ekonomi kesehatan, dan kebijakan sosial, dua pengalaman ini jadi semacam pengingat kenapa aku memilih jalur ini sejak awal. Terlalu mudah membahas cakupan layanan kesehatan jiwa atau pembiayaan perawatan lansia sebagai angka di atas kertas, jumlah tempat tidur, rasio tenaga kerja, anggaran per kapita. Tapi di balik setiap angka itu ada orang seperti Bill Wallace, yang menghabiskan lebih dari enam dekade hidupnya di balik satu tembok yang sama, atau lansia yang aku temui yang ceritanya diulang bukan karena pikun, tapi karena memang tidak ada orang lain yang mau mendengarkan.

Aku pulang dari Ararat dengan pertanyaan yang lebih tajam daripada jawaban: bagaimana Indonesia bisa membangun sistem perlindungan sosial dan kesehatan jiwa yang tidak menunggu sampai krisis dulu baru direspons, dan bagaimana skema volunteer yang ringan tapi terstruktur, seperti yang aku jalani di sana bisa direplikasi di kampung halamanku sendiri, dengan segala keterbatasan anggaran dan tenaga yang kita punya. Pertanyaan itu yang sekarang ikut membentuk arah studi dan riset yang ingin aku dalami ke depan: bukan cuma memahami kebijakan di atas kertas, tapi memastikan kebijakan itu benar-benar sampai ke orang yang paling membutuhkannya. Then, maybe only my wish:)

Overall, I feel fulfilled. Thank you Ararat, benar-benar pengalaman luar biasa yeayy :)
























You Might Also Like

0 Comments

Paling Banyak Dibaca

Subscribe