Jadi ceritanya, awal Agustus kemarin aku baru aja pulang dari bertapa 10 hari di hutan hehe. Meditasi lebih tepatnya, namanya Vipassana, meditation retreat yang melarang siswanya untuk menggunakan HP, tidak boleh ngobrol, dan kitanya cuma boleh duduk diam berjam-jam sehari (setidaknya 10 jam meditasi). Kedengerannya berat? tak menyangkal...
Tapi ternyata ini salah satu hadiah terbaik yang pernah aku kasih ke diri sendiri, apalagi momennya pas banget: secara resmi meninggalkan umur 20-an dan masuk fase 30-an. Yuk, aku ceritain dari awal hihi.
Apa Itu Vipassana, Sih?
Bukan ilmu goib, apalagi aliran sektarian tertentu ya haha. Vipassana itu teknik meditasi buat mengenali diri sendiri lewat pengamatan terhadap sensasi tubuh. Intinya melatih awareness dan equanimity belajar mengamati sensasi, baik yang nyaman maupun nggak nyaman, tanpa bereaksi berlebihan.
Selama Dhamma Talk (ceramah malam dari S.N. Goenka, sosok yang membangun ratusan pusat Vipassana gratis di seluruh dunia sebelum wafat tahun 2013), dijelasin kalau penderitaan mental itu umumnya berasal dari dua hal: craving (ingin sesuatu yang belum dimiliki) dan aversion (ingin menyingkirkan sesuatu yang tidak disukai).
Singkatnya seperti itu :) Terasa familiar? Layaknya hidup kita tentunya, HAHA.
Awal Ketemu Vipassana: Drama di Umur 20-an Awal
Aku tau Vipassana pertama kali dari mentorku, dan karena rasa penasaran yang tinggi, aku akhirnya ikutan waktu masih early 20s. Dulu sebagai new student, baru masuk hari kedua aja udah pengen pulang rasanya. Bayangin, kegiatannya cuma meditasi, nggak boleh ngomong, nggak boleh pegang HP, dan ya cuma duduk, diam, tidur, makan cuma sekali — diulang sampai hari ke-10.
Badan rasanya kayak cacing ditabur garam, meliuk-meliuk nggak bisa diem. Tersiksanya bukan main, drama banget deh haha. Tapi aku tetap bertahan hingga akhir karena aku tau ini bagus untuk diriku, dan aku percaya.
Balik Lagi Sebagai Old Student & Server, 8 Tahun Kemudian
Akhirnya aku balik lagi jadi old student setelah 8 tahun. Sebenarnya pengen ikutan dari 2025 — exactly a perfect way to end my 20s for good, udah apply juga dari 2024 — tapi sayangnya kuota winter udah penuh, dan aku nggak mau ambil yang summer karena hutan Melbourne panasnya minta ampun. Tetap seneng banget akhirnya bisa ikutan di 2026, dan jadwalnya pas banget buat mengakhiri winter break kuliah :)
Course-nya sendiri sebenarnya cuma 10 hari retreat, tapi karena aku sekalian jadi server untuk new student selama 3 hari pertama, total aku “menghilang” di hutan selama 15 hari hihi.
Gak ada mistisnya kok haha, tapi ini juga bisa jadi cara buat liat kalau pengalaman kayak Vipassana itu butuh kombinasi antara niat, kesempatan, dan kesiapan mental. Mungkin itu juga alasan kenapa ada yang bilang meditasi ini “tidak untuk semua orang” atau lebih tepatnya, nggak semua orang berada di waktu yang tepat untuk menjalaninya. Kadang jadwal pas, kuota nggak ada. Kuota ada, jadwal nggak pas. Kuota dan jadwal pas, eh ternyata kondisi nggak pas :)
“Vipassana will find you, and the universe will guide you :)” kalimat ini kerasa cocok banget sama konteksku, apalagi setelah aku baru bisa balik lagi ikut full course setelah 8 tahun... dan never expect bakal di Australia :)
Back as old student, gak berarti otomatis terasa mudah... namun tidak sedramatis waktu pertama kali. Mungkin juga karena aku memang sudah familiar dengan yoga dan meditasi sejak SD sampai sekarang, ya as Balinese. Menjadi old student aku mengikuti course dengan lebih serius dan enjoy setiap momennya, baik yang pleasant maupun unpleasant... walau satu dua hari aku tetap merasa harinya panjangggggg dan lamaaaa banget. Duh, ditengok jam kok rasanya nggak bergerak haha.
Aturan Mainnya Gimana?
- Sepenuhnya gratis: donasi di akhir bersifat sukarela :)
- Noble Silence: tidak boleh berkomunikasi dengan sesama student selama 9 hari pertama (tapi boleh bicara ke course manager atau asisten guru untuk kebutuhan teknis).
- Tidak boleh membaca/menulis, HP disita selama retreat — makanya aku off total selama 15 hari.
- Tidak butuh pengalaman meditasi sebelumnya.
- Hari ke-10 sudah boleh berinteraksi dengan student lainnya, namun tetap menjalani meditasi sampai hari ke-11 dan cleaning day :)
Lokasinya di Mana?
Namanya Dhamma Āloka Vipassana Meditation Centre, di tengah hutan Victoria, Australia. Tempatnya asri banget. Setiap pagi pemandangan bukit berkabut seperti di Pinggan, Kintamani, dan tiap sore bisa melihat sunset dari atas bukit.
Energinya juga lagi bagus banget waktu itu mulai meditasi pas Bulan Penuh Purnama, dan mengakhirinya menjelang Bulan Mati (Tilem). Dua hari pertama sempat hujan, lalu cerah sampai hari ke-8, sedikit gerimis glommy dan cerah lagi sampai akhir sesi tapi mostly cuaca cerah di malam hari, biasalaaa Melbie weather.
Bau tanah selepas hujan di malam hari, suara burung-burung di pagi hari, suara pohon diterpa angin... beuh, debest place for me to wind down and escape for a while! ✨
Rutinitas Harian Selama 10 Hari
Mulai jam 4 pagi, total sekitar 10 jam meditasi per hari, dengan jeda makan dan istirahat, plus Dhamma Talk malam dari Goenka yang berakhir jam 9:30 malam.
- Breakfast: oatmeal & roti
- Lunch: vegetarian meal (jatuhnya makan 1x/hari hehe)
- Sore: hot lemon ginger
Aku yang biasanya aktif banget, picky dan strict soal diet, tiba-tiba nggak bisa milih makananku sendiri, dan nggak bisa olahraga atau produktif juga. Yang bisa aku lakuin cuma duduk, observe, dan makin sadar sama tubuh dan pikiran sendiri :)
Ngapain Aja Selama 10 Hari? (Teknik Meditasinya)
Retreat ini berlandaskan teknik meditasi universal S.N. Goenka. Ada juga asisten guru yang memfasilitasi setiap sesi (kelas male dan female terpisah), kali ini teacher-ku namanya Gennie.
- Anapana (hari 1-3): mengamati napas alami di sekitar hidung dan bibir atas, untuk melatih fokus.
- Vipassana (hari 4-9): teknik body scanning, menyapukan perhatian dari ujung kepala ke kaki, mengamati sensasi tanpa bereaksi.
- Metta (hari 10): meditasi cinta kasih, menyebarkan kedamaian.
Serunya Hidup di Hutan
Beberapa kali aku melihat walabi loncat-loncat di area tracking, dan kelinci loncat-loncat di malam hari datang dari area hutan menuju depan kamar haha. Sesekali sambil memandangi bintang-bintang, milky way terang banget di malam hari, ditambah pemandangan bulan penuh di balik pepohonan, cielahh...
Apalagi di hutannya aku beberapa kali menemukan spiders dan jamur warna-warni kayak di film, bahkan ada jamur warna ungu dan warna merah bintik orange, keren kali tempat ini pikirku. Tapi aku nggak boleh sembarangan sentuh spider-nya, bisa jadi masuk RS wkwkwk.
Ketemu Roommate yang Seru
Aku pikir aku beruntung banget bisa merasakan hidup 10 hari kayak monk atau nun, sepenuhnya disupport oleh charity of others. Di sini juga aku ketemu Vipassana yogi roommates yang lovely banget, Sarah dan Laura; keduanya juga old student :)
Refleksi Tentang Umur 20-an
Aku merasa umur 20-an ini adalah masa paling critical; aku bertemu dengan banyak orang, melalui banyak hal, mengunjungi banyak tempat — sepertinya udah lebih dari 30 provinsi di Indonesia, dan beberapa negara di luar negeri — serta mencoba banyak hal, melalui quarter life crisis dan menemukan jati diri, hemm...
Kedepan mungkin aku tidak akan bertemu dengan banyak orang lagi seperti in my 20sh. Might travel less, bekerja di tempat yang sama selama bertahun-tahun, bahkan circle semakin mengecil, serta akan lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang aku temui di umurku 20sh. Dinamikanya pasti akan berbeda.
Aku menemukan momen ini membantu aku untuk berproses, merelease semua bentuk emosi negatif yang mungkin saja secara tidak sadar aku pendam. Harapannya aku bisa lebih tenang, happy, dan menikmati setiap fase dalam hidup dengan lebih enjoy, cielahh... memasuki fase 30 tahunan lol.
Dari semua teknik meditasi yang pernah aku pelajari, aku merasa Vipassana jadi teknik meditasi favoritku ketika aku harus melalui fase transisi, pun harus mengambil keputusan besar hihi. Momen ini terasa sedikit lebih special karena secara resmi meninggalkan umur 20-an — hiks, abit mellow rasanya, karena aku merasa 20-an adalah masa paling produktif dan “gak bisa diem” buat aku.
Finish MPH soon dan kembali bekerja, makanya aku memutuskan mengambil jeda untuk purify my mind, see things more clearly, spend time only with my self, melepas semua untuk diri, dan harapannya bisa menata kembali fase transisi yang aku lalui ini dengan lebih baik.
Ketika umur belasan menuju 20-an aku rasa it's changed me, aku kemudian memenuhi janji kembali mengambil jeda, dan semoga di fase 30-an ini, bisa tetap berjalan, bertahan, melaluinya, dan menikmatinya :) Dengan lebih berkesadaran... duhh ngomongnya udah kayak orang tua ehhh.
Dua Buku yang Related Banget
Selain itu, aku juga percaya pun dari 2 buku favoritku, Kafka on the Shore (Haruki Murakami) dan The Body Keeps the Score (Bessel van der Kolk) bahwa kadang tanpa kita sadari, kenangan-kenangan yang kurang menyenangkan bisa tersimpan di dalam badan kita dan juga in my unsubconscious mind, entah secara sengaja maupun tidak sengaja.
Aku tidak mau hal tersebut menghantui, berkerak, dan akhirnya mengganggu kehidupan. Makanya mungkin teman-temanku familiar dengan kebiasaanku untuk cepat bounce back dan move forward. Mungkin ini membantu, entahlah, tapi yang paling penting: I do what I love and what makes me happy, more. Duhh bijaknya keluar, maklum masih fresh baru aja turun gunung dan bertapa di hutan belantara — tapi cakep banget tempatnya heheuu.
Aku nggak bisa memilih makananku sendiri, padahal biasanya aku picky dan cukup strict dengan diet. Nggak bisa olahraga & produktif juga, karena orang-orang tau aku ini orang yang sangat aktif hihi. Semua yang bisa aku lakukan hanya duduk, observe, dan menjadi lebih aware sama tubuh dan pikiranku sendiri :)
Ini jadi practice yang meaningful banget buat aku pribadi, dan mungkin salah satu best gift yang bisa aku kasih ke diri sendiri saat meninggalkan 20-an ku untuk selamanya, sambil membawa semua pelajaran yang telah mereka ajarkan :D Reminder paling penting yang aku bawa pulang adalah untuk selalu be kind and gentle dengan diri sendiri dan orang lain, karena kita tidak pernah benar-benar tau apa yang sedang dilalui seseorang dalam hidupnya.
Juga... never stop finding your “why” every time you open your eyes in the morning.
Dan... keep being excited about life :)
Just a little note... Thank you, Dhamma Aloka Australia! For making my life here feel a little more fulfilling. Luv! 🤍

.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)



